Pahlawan Yang Tidak Dikenali ( Tsabit bin Arqam )



Kini kita berada di Jumaat terakhir bulan Jamadil awal 1434 H. Pada bulan yang sama di tahun 8 H terjadi perang Muktah ataupun perang Khandaq. Banyak ibrah atau pengajaran dapat kita ambil dalam perang itu mulai dari kepahlawanan, keistiqamahan berjuang, keberanian, kecerdasan strategi perang dan sebagainya. Diantara ibrah yang tak kurang penting adalah keikhlasan yang ditunjukkan oleh seorang sahabat bernama Tsabit bin Arqam. Ia melakukan tugas besar, tetapi namanya tidak banyak dikenal dan ia juga tidak ingin terkenal. 


Perang  Khandaq bermula ketika Rasulullah saw mengutus Al Harits bin Umair untuk mengantarkan utusan kepada pemimpin Bushra. Namun di perjalanan, Al Harits dihalang oleh Syurahbil bin Amr Al Ghassany, pemimpin Al Balqa’ yang berada di bawah Qaishar Romawi. Syurahbil mengikat Al Harits dan membawanya ke hadapan Qaishar, lalu memenggal lehernya.

Membunuh utusan merupakan kejahatan yang sangat keji sekaligus mengumumkan perang kepada negara pengutus. Karena itulah Rasulullah saw sangat murka dan menghimpun 3.000 tentera. Sebelum mereka berangkat, baginda melantik Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan seraya berpesan: “Jika Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far. Jika Ja’far gugur, penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.”  Pesanan ini amat aneh. Belum pernah Rasulullah saw berpesan seperti ini di dalam perang-perang sebelumnya.


Disingkatkan cerita, kemudian kedua pasukan bertemu setelah dua hari saling mengawasi. Mengapa tidak terus berperang? Sebab mereka sama-sama ragu. Pasukan Islam belum pernah berhadapan dengan pasukan sebanyak itu, sedangkan Pasukan Romawi juga ragu sebab pasukan Islam yang kecil itu tidak memiliki sejarah kalah. 

3.000 pasukan Islam melawan 200.000 pasukan Romawi. Jumlah yang sangat tidak seimbang. Tetapi Zaid bin Haritsah memimpin perang dengan gagah berani. Ia bertempur hebat sambil memegang bendera Islam. Di zaman itu, bendera pasukan dipegang oleh pemimpinnya. Hingga, sebuah tombak musuh mengenainya. Zaid pun jatuh ke tanah. Ia syahid.

Seperti pesan Rasulullah saw, Ja’far bin Abu Thalib mengambil bendera itu. Melanjutkan kepemimpinan perang. Ia pun bertempur dengan luar biasa. Membunuh satu per satu pasukan Romawi. Ketika peperangan makin seru, kudanya terkena senjata dan ia tercampak. Ja’far melanjutkan pertemuran hingga pasukan Romawi menebas tangan kanannya. Kehilangan tangan kanan, Ja’far memegang bendera dengan tangan kirinya. Namun kemudian tangan kirinya juga ditebas pedang musuh. Ja’far lalu mendekap bendera di dada dengan sisa-sisa lengannya agar tetap berkibar. Lalu pasukan Romawi menebaskan pedang hingga tubuhnya terbelah menjadi dua. Ibnu Umar mendapati tak kurang dari 50 luka di tubuh Ja’far yang terbelah menjadi dua itu. Dan kerana itu, Ja’far dijuluki Dzul-Janahain (orang yang memiliki dua sayap).

Setelah Ja’far syahid seperti kata Rasulullah saw, bendera diambil alih Abdullah bin Rawahah. Ia juga memimpin pasukan dan bertempur dengan gagah berani. Hingga kemudian ia pun gugur. Pada saat itu di Madinah, Rasulullah saw mengkhabarkan gugurnya ketiga panglima Islam tersebut. “Zaid mengambil bendera lalu dia gugur. Kemudian Ja’far mengambilnya lalu dia juga gugur. Kemudian Ibnu Rawahah mengambilnya, dan ia pun juga gugur.” Rasulullah saw menangis, para sahabat juga ikut menangis.

Kembali ke Muktah. Rasulullah saw memang menunjuk urutan panglima mulai dari Zaid, Ja’far lalu Ibnu Rawahah. Tetapi setelah itu tidak ada petunjuk. Padahal bendera jatuh dan harus diselamatkan, perang harus dilanjutkan, harus ada pemimpin baru. Pada saat itulah seorang sahabat dari Bani Ajlan, Tsabit bin Arqam maju dan menyelamatkan bendera. Setelah bendera di tangannya ia berteriak, “Wahai semua muslim, angkatlah pemimpin baru!”


“Engkau saja,” jawab mereka.


“Aku tidak akan sanggup” kata Tsabit yang kemudian mencari seseorang dan memintanya memimpin. 

“Kau yang harus memimpin wahai Abu Sulaiman” semula ia menolak, tetapi setelah musyawarah singkat menunjuknya. Abu Sulaiman pun memimpin dengan gagah berani. Dialah yang disebut Rasulullah saw sebagai Syaifullah (pedang Allah), Khalid bin Walid.

Kita amat memerlukan orang-orang seperti Tsabit bin Arqam ini. Jasanya besar, meskipun ia tidak terkenal. Kita juga perlu belajar dari Tsabit bin Arqam, yang terus beramal, terus berjasa, menyumbang jasa besar, tanpa mempedulikan apakah kita akan dikenal atau tidak. Keihlasan seperti inilah yang sulit dan barangkali cukup langka di zaman kita, hari–hari ini. Tetapi hanya dengan ikhlas-lah, amal-amal kita akan bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tanpa keikhlasan, sirnalah segala amal, sia-sia dalam pandangan-Nya. Wallahu'alam..



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget